NP017 Maha Besar Oh Tuhanku
Semesta alam hasil karya-Mu
Bintang dan guruh semua menjadi
Pertanda Mahakuasa Khalikku
Aku memuji kebesaran-Mu, maha besar Penciptaku
Aku memuji kebesaran-Mu, Mahabesar O Tuhanku!
Mendengar kicau burung nan merdu
Bila mendaki puncak pegunungan
Memandang indahnya ciptaan-Mu
Hingga menyuruh Anak-Nya mati
Rela disalib bagi manusia
Lunaslah dosaku diampuni
Betapa sukacita hatiku!
Di antar pulang, masuk surga suci
Akan kupuji kebesaran-Mu
Kisah Di Balik Lagu
[hasil parafrase] Kidung agung ini bermula pada tahun 1885 di Swedia, ketika seorang pendeta muda bernama Carl Boberg terkesima oleh keindahan alam setelah badai petir yang tiba-tiba mereda di dekat pantai Kronobรคck. Pengalaman menyaksikan perubahan alam yang dahsyat berganti dengan pelangi dan kicauan burung menggerakkannya menulis puisi berjudul "O Store Gud". Nyanyian rakyat Swedia ini kemudian melanglang buana, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Rusia, sebelum akhirnya didengar oleh misionaris Inggris, Stuart K. Hine, di Ukraina pada tahun 1931. Hine menyusun bait-bait bahasa Inggris yang legendaris ("How Great Thou Art") dan menggubah musiknya berdasarkan melodi asli Swedia, menjadikannya salah satu himne yang paling sering dinyanyikan di seluruh dunia.
Analisis Syair (Teologis-Biblikal)
- Doktrin Penciptaan (Bait 1 & 2): Lirik ini merefleksikan pengakuan iman atas Allah sebagai Khalik yang memegang kendali alam semesta, sejalan dengan kesaksian Alkitab dalam Mazmur 96:1-5. Kekaguman pada ciptaan menjadi jembatan untuk memuji keagungan Sang Pencipta secara natural.
- Karya Penebusan Kristus (Bait 3): Ulasan teks tidak berhenti pada kekaguman kosmis semata. Bait ketiga menitikberatkan perhatian utama pada esensi pengorbanan Kristus di kayu salib demi menghapus dan melunasi dosa manusia, yang merupakan landasan keselamatan utama.
- Pengharapan Eskatologis (Bait 4): Kidung ditutup dengan pandangan ke depan yang penuh iman mengenai kedatangan kembali Tuhan Yesus untuk membawa pulang orang percaya masuk ke kediaman kudus.
Analisis Kritis
Pada Bait 1 terdapat susunan kalimat: "Bintang dan guruh semua menjadi; Pertanda Mahakuasa Khalikku." Pemakaian frasa "semua menjadi" secara tata bahasa modern terasa agak menggantung karena terputus oleh baris naskah. Agar alur kalimat aktifnya terasa lebih mengalir bagi generasi masa kini, penulisan di masa depan dapat disesuaikan tanpa merusak irama, misalnya: "Bintang dan guruh bersaksi menjadi, pertanda Mahakuasa Khalikku."
Selain itu, pada Bait 3 terdapat pilihan frasa "menyuruh Anak-Nya mati". Ungkapan ini terasa sangat literal dan kurang memperlihatkan kerelaan penuh serta kehendak bebas Kristus dalam menyerahkan nyawa-Nya bagi manusia. Pilihan frasa alternatif yang lebih selaras secara teologis untuk penulisan di masa mendatang adalah "mengutus Anak-Nya berkorban", sehingga keagungan kasih penebusan itu tampil lebih bersahaja dan tepat secara doktrinal.
| Penulis Syair | Carl Boberg (Swedia, 1885), diterjemahkan oleh Stuart K. Hine (1949) |
| Pengubah Lagu | O STORE GUD (Lagu Rakyat Swedia), digubah oleh Stuart K. Hine |
| Sumber Lirik | Buku Nyanyian Pujian, terbitan Lembaga Literatur Baptis (LLB) |
| Pemusik Audio | Mathias D.A. (Iringan / Minus One) |
Komentar
Posting Komentar